ANALISA HARIAN

ANALISA HARIAN
PAIR EU, 6 OKTOBER 2012
Tampilkan postingan dengan label TEKNIKAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEKNIKAL. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2012

STRATEGI TRADING SISTEM SIDUS

Cara trading disini menggunakan strategi Sidus sytem yang cukup efisien untuk mendapatkan keuntungan dari Forex Trading. Sistem ini adalah gabungan system BGX dan Vegas yang cukup populer.

Mata uang uang disarankan EUR/USD dan EUR/GBP (pilih salah satu saja). Waktu trading pada saat US open (19.00 WIB) atau Europe Open (14.00 WIB)

Metodenya sederhana tapi cukup efektif untuk melihat trend pergerakan harga. Indikator-indikator yang digunakan

1. Time Frame 1 Jam (1H) gunakan chart candlestick atau chart bar
2. EMA 18 dan EMA28 (warna merah dua-duanya)
3. WMA 5 (warna biru) dan WMA 8 (warna kuning)

Masalah warna bisa diatur sesuai selera.
Untuk mensetup Indikator Sidus Sistem di Platform Marketiva, setelah login melalui streamster Anda bisa langsung mensetup indikator2 diatas dengan cara yang mudah

1. Time frame 1 jam dan candlestick atau bar chart
Klik kanan pada bagian bidang yang menampilkan grafik (charting. Akan muncul beberapa pilihan (options). Pilihlah “Timescale” Lalu klik “Hourly “ (jam) maka data grafik akan memunculkan data harga (Open, High, Low, Close) setiap 1 Jam
Klik kanan lagi bidang grafik pilih “Style”. Lalu klik “Candlesticks” atau “Bar Chart” (terserah Anda. Gambar grafik akan berubah sesuai pilihan Anda


2. EMA 18 dan EMA 28 (merah)
Klik kanan bidang grafik, akan muncul options
Pilih “Indicators” setelah itu pilih “Moving Average”. Lalu akan uncul kolom isian. Pada kolom “Type” pilihlah”Exponential (EMA=Exponential Moving Average)
Rubahlah angka default “Period” menjadi “18″ lalu klik kotak warnanya “Line Color” pilih warna “merah”.
Klik “OK”.Anda sekarang memiliki garis EMA18 warna merah
Lakukan hal yang sama sekali lagi seperti di atas untuk membuat garis “EMA 28 warna merah”.
Bila sudah maka Anda sekarang memiliki 2 garis EMA yaitu EMA18 dan EMA 28 masing masing warna merah.


3. WMA 5 (biru) dan WMA 8 (kuning)
Klik kanan bidang grafik, akan muncul options. Pilih “Indicators” setelah itu pilih “Moving Average”. Lalu akan uncul kolom isian. Pada kolom “Type” pilihlah”Weighted (WMA=Weightedl Moving Average). Ubahlah angka default “Period” menjadi “5″ lalu klik kotak warnanya “Line Color” pilih warna “biru”


Klik “OK”. Anda sekarang memiliki garis WMA 5 warna Biru
Lakukan hal yang sama sekali lagi seperti di atas untuk membuat garis “WMA 8 warna kuning”.
Bila selesai maka Anda sekarang memiliki 2 garis WMA yaitu EMA 5 (biru) dan EMA 8 (merah)


4. Secara keseluruhan pada grafik harga (charting) Anda sekarang memiliki 4 garis MA.
Yaitu garis EMA 18 (merah), EMA 28 (merah), WMA 5 (biru) dan WMA 8 (kuning). Cobalah “Save” Setup Anda ini sehingga Anda tidak perlu mengatur setting-annya setiap kali login. Untuk Men-“save” Klik Kanan Bidang Grafik kemudian pilih “Save Chart“. Isi Nama file sesuai selera Anda mis; “Sidus System” setelah itu klik “OK”. Settingan Anda sudah tersave aman. Untuk menghapus, mengedit mengatur dsb Anda bisa melakukan dengan cara yang sama. Tinggal klik Kanan bidang grafik (Charting).


Aplikasi Sidus System
 
EMA 18 dan EMA 28 (masing2 merah)
adalah merupakan 2 garis tunnel untuk membantu Anda menentukan kapan mulainya sebuah trend dan kapan trend itu berakhir. (jangka panjang)

WMA 5 (biru) dan WMA 8 (kuning)
Adalah garis yang akan membantu kita kapan kita harus memasuki trend itu (Open Position), dan garis ini juga akan menunjukan kuat tidaknya sebuah trend (jangka pendek)

Entry Signal
Lakukan Open position (sell atau buy) hanya pada saat Tunnel (EMA 18 dan EMA 28) mulai saling bersilangan (cross) atau benar2 sempit

Ambil Posisi Buy (Long)

Bila WMA 5 dan WMA 8 melewati /menyilang garis Tunnel (EMA 18 dan EMA 28)
dari bawah ke atas. Jika WMA 5 melintasi garis WMA 8 dari bawah ke atas berarti trend pergerakan harganyanya sangat kuat.

Ambil Posisi Sell (Short)

Bila WMA 5 dan WMA 8 melewati /menyilang garis Tunnel (EMA 18 dan EMA 28)
dari atas ke bawah. Jika WMA 5 melintasi garis WMA 8 dari atas ke bawah berarti trend pergerakan harganyanya sangat kuat.

Exit Signal (Keluar dari posisi BUY atau SELL)
Bila mengambil posisi BUY, Waspada bila garis WMA 5 bergerak menyilang turun dari atas ke bawah garis WMA 8 dan Keluar (exit) dari posisi ini bila garis WMA 5 WMA 8 meyilang turun dari atas ke bawah garis Tunnel (Celah EMA 18 dan EMA 28)

Bila mengambil posisi SELL, Waspada bila garis WMA 5 bergerak menyilang naik dari bawah ke atas garis WMA 8 dan keluar (exit) dari posisi ini bila garis WMA 5 dan WMA 8 bergerak menyilang naik dari bawah ke atas garis Tunnel (Celah EMA 18 dan EMA 28)

Dan Selalu keluar dari posisi Anda bila Tunnel (celah EMA 18 dan EMA 28) benar2 menyempit dan bahkan bersilangan. Hal ini menunjukan terjadinya perubahan arah trend (trend reversal).

Bila Anda melihat perubahan pergerakan trend harga seperti saat tunnel (celah EMA) menyempit atau bersilangan, tutup posisi sebelumnya dan buka posisi baru sesuai arah trend. Contoh bila Sebelumya Anda mengambil Posisi BUY kemudian Anda melihat perubahan harga, Tutup posisi BUY lalu Buka posisi baru yaitu SELL.. Ingat Jadikan “Trend Sebagai Teman”

Direkomendasikan untuk metode ini gunakan stop loss 10-15 pips untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Read More......

STRATEGI TRADING SISTEM BGX

Cara trading disini menggunakan strategi BGX sytem untuk menentukan Open position dan exit .
  • Mata uang uang disarankan GBP/USD, EUR/USD, USD/CHF, EUR/JPY (pilih salah satu saja). 
  • Waktu trading pada saat US open (19.00 WIB) atau Europe Open (14.00 WIB)
Indikator yang digunakan
1. Time frame grafik 30 menit Candle Stick atau Bar
2. Garis WMA 5 (warna biru) WMA 20 (Oranye) dan WMA 100 (hijau)
3. Indikator RSI 14 (default)

Untuk mensetup Indikator BGX Sistem di Platform Marketiva, setelah login melalui Streamster Anda bisa langsung mensetup indicator-indikator diatas dengan cara seperti ini:

1. Time frame 30 menit dan Candle Stick atau Bar
Klik kanan pada bagian bidang yang menampilkan grafik (charting)Akan muncul beberapa pilihan (options). Pilihlah “Timescale” Lalu klik “30 minutes“ (30 menit) maka data grafik akan memunculkan data harga (Open, High, Low, Close) setiap 30 menit. Klik kanan lagi bidang grafik pilih “Style”. Lalu klik "Candlesticks" atau "Bar Chart" (terserah Anda). Gambar grafik akan berubah sesuai pilihan Anda


2. WMA 5 (Biru) dan WMA 20 (Oranye) WMA 100 (Hijau)
Klik kanan bidang grafik, maka akan muncul options. Pilih “Indicators” setelah itu pilih "Moving Average". Muncul Tab Pilihan; pada kolom "Type" pilih "Weighted"(WMA=Weightening Moving Average). Ubahlah angka default kolom "Period" menjadi "5" lalu klik “Line Color" kotak warnanya pilih warna “Biru”. Klik "OK". Anda sekarang memiliki garis WMA 5 warna Biru. Lakukan hal yang sama untuk membuat garis WMA 20 warna oranye dan garis WMA 100 warna hijau.


Bila sudah Anda lakukan, maka Anda sekarang memiliki 3 garis WMA yaitu WMA 5 (biru), WMA 20 (Oranye) dan WMA 100 (hijau) pada grafik harga Anda.


3. Indikator RSI 14
Klik kanan bidang grafik, akan muncul options. Pilih “Indicators” setelah itu pilih "Relative Strenght Index (RSI)" . Isi kolom "periode" dengan 14


4. Cobalah “Save” settingan Anda ini sehingga Anda tidak perlu mengatur setting-annya setiap kali login.
Untuk Men-“save” Klik kanan Bidang Grafik kemudian pilih “Save Chart “ Isi Nama file sesuai selera Anda mis; “BGX System” setelah itu klik "OK". Settingan Anda sudah tersave aman.


Untuk menghapus, mengedit mengatur dsb Anda bisa lakukan dengan cara yang sama. Tinggal klik Kanan bidang grafik (Charting).


Aplikasi BGX System
WMA 5 (biru) untuk mengikuti harga market.
WMA 20 (oranye) untuk konfirmasi entry (OP)
WMA 100 (hijau) untuk identifikasi trend harian


Bersiap Ambil Posisi “Buy” Bila:
WMA 5 mengcross WMA 20 dari bawah ke atas
WMA 5 dan WMA 20 berada di atas WMA 100
RSI berada di atas point 50 (garis tengah)
Entry (OP) saat harga 30 pip di atas harga cross WMA 5 dan WMA 20


Bersiap Ambil Posisi “Sell” Bila:
WMA 5 mengcross WMA 20 dari atas ke bawah
WMA 5 dan WMA 20 berada di bawah WMA 100
RSI berada di bawah point 50. Entry (OP) saat harga 30 pip di bawah harga cross WMA 5 dan WMA 20


Target point 30 pip dan stop loss minus 5 dari persilangan (cross) WMA 5 dan WMA 20


Contoh Trading :
Bila suatu saat WMA 5 mengcross WMA 20 dari atas ke bawah pada titik harga 1.2530 serta RSI menunjukan posisi di atas garis tengah (50). Bersiaplah mengambil posisi “BUY” pada saat harga 30 pip di atas harga cross (1.2530 + 0.0030 (30 pip)) yaitu di 1.2560. Lalu pasang stop loss minus 5 pip di bawah garis cross (1.2530 – 0.0005) yaitu di 1.2525.


Gunakan uang virtual terlebih dahulu sampai Anda benar2 mengenal Forex Trading Online ini. Pilihlah strategi yang sesuai dengan diri Anda sendiri. Dan jangan pernah berhenti untuk selalu menambah pengalaman dan pengetahuan Anda di bidang ini.

Read More......

Selasa, 27 September 2011

STOCHASTICS OSCILLATOR

Pada dasarnya penggunaan stochastic oscillator tidak jauh berbeda dengan RSI. Mereka berdua sama-sama bisa memberikan perkiraan keadaan overbought atau oversold. Bedanya, stochastic oscillator memiliki dua buah garis yang disebut dengan %K (biasa disebut slow stochastic) dan %D (biasa disebut fast stochastic).

Kita lihat bahwa garis %K dan %D selalu bergerak bolak-balik di antara level 80 dan 20 (garis horizontal putus-putus). Area di atas 80 disebut area overbought, sementara yang di bawah 20 disebut area oversold.
Sinyal sell diberikan stochastic ketika garis %K memotong garis %D di area overbought. Sedangkan sinyal buy diberikan ketika garis %K memotong garis %D di area oversold.
Sama halnya seperti RSI, kelemahan stochastic adalah ketika saat trending ia tak bisa memberikan sinyal yang akurat. Maka dari itu kombinasi dengan MA juga sering menjadi solusinya.

Read More......

ANALISA DENGAN FIBONACCI RETRACEMENT

Fibonacci adalah nama panggilan seorang ahli matematika Eropa abad pertengahan bernama asli Leonardo Pisano. Nama ‘Fibonacci’ digunakannya karena ia merupakan anak lelaki dari keluarga Bonacci. Pada tahun 1240 Leornardo Pissano Fibonacci menemukan sebuah deret yang dinamakan sesuai dengan nama dirinya yaitu deret Fibonacci. Deret ini sedianya digunakan untuk menjawab sebuah persoalan matematika klasik pada jamannya. Sekedar mengingatkan, lahirnya deret tersebut berasal dari pertanyaan klasik seputar kelinci yang berbunyi :

“Seorang pria menempatkan sepasang Kelinci pada sebuah tempat yang dikelilingi oleh tembok sehingga terisolasi oleh dunia luar. Berapa pasang kelinci yang dihasilkan apabila sepasang kelinci menghasilkan sepasang kelinci lainnya yang juga akan produktif pada bulan berikutnya dan demikian seterusnya?”

Berapakah jawaban anda? sedikit, banyak, tak terhingga? ingat lho.. kita bukan sedang duduk dalam kelas beginner lagi.
Hahaha, saya sendiri juga tidak pernah menghitungnya. Namun Fibonacci berhasil memecahkannya dengan membuat sebuah deret yang dikenal sebagai deret Fibonacci.
1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144…

Dari deret itulah lahir sebuah bilangan yang dikenal sebagai Golden ratio ( rasio emas ). Ia menemukan bahwa banyaknya bentuk indah di alam yang memiliki angka-angka rasio tertentu. Angka rasio yang paling sering muncul adalah 1:1.618.

Coba Anda berdiri dan ukur jarak
dari ujung kepala ke pusar Anda, lalu kita ukur jarak dari pusar Anda ke lantai. Jika bentuk tubuh anda cukup proporsional, perbandingan keduanya adalah 1:1.618, kurang lebih.

OK, kita tidak akan membahas Tuan Fibonacci dan matematika lagi. Bisa-bisa nanti pembicaraan kita terlalu jauh hingga ke rasio ruas cangkang nautilus.

Berkaitan dengan rasio itu, para teknikalis lalu berpikir: kalau angka-angka rasio itu berlaku di alam, mestinya berlaku juga untuk pergerakan harga pasar. Lalu muncullah sebuah indikator yang disebut dengan Fibonacci Retracement.

Sederhananya, Fibonacci retracement bisa digunakan untuk menentukan support maupun resistance dari pergerakan harga. Coba perhatikan gambar grafik berikut ini:
Jika kita perhatikan, meskipun pergerakan harga berada dalam uptrend, namun ia tak pernah bergerak dalam satu garis yang benar-benar lurus. Selalu ada “pembalikan-pembalikan” kecil yang sering kita istilahkan dengan “koreksi” atau “swing”.
Nah, Fibonacci retracement bisa berguna untuk mengukur sampai sejauh mana koreksi itu kira-kira akan terjadi. Dalam trading, level Fibonacci retracement yang menjadi level kunci adalah 38.2%, 50%, 61.8%. Terkadang, level 76.4% juga dijadikan referensi.
Untuk menentukan level Fibonacci retracement ini kita harus menarik garis dari titik “swing high” ke “swing low” atau sebaliknya. Untuk menjelaskan masalah “swing” ini lebih mudah dengan menggunakan gambar berikut ini:
Pada pergerakan naik, harga biasanya bergerak dari titik A (=swing low) menuju titik B (=swing high). Fibonacci retracement kita tarik dari titik A ke titik B. Turunnya harga (koreksi) paling dekat diperkirakan hingga ke level 38.2%, target berikutnya adalah level 50%, dan level kuncinya adalah di 61.8%. Dengan kata lain, koreksi terjauh kita harapkan adalah di level 61.8% (titik C pada gambar).
Karena koreksi terjauh kita harapkan hanya hingga level 61.8% (dan memang ini yang sering terjadi), maka kita bisa bersiap melakukan aksi di level tersebut. Artinya, kita bisa bersiap-siap melakukan BUY apabila harga telah mencapai level 61.8% (titik C) setelah turun dari titik B. Targetnya adalah titik D (0.0%) dan batasan resikonya adalah di level 100%.
Sedangkan pada pergerakan turun, Fibonacci retracement kita tarik dari swing high ke swing low. Level-level retracement-nya sama dengan gambar sebelumnya, hanya saja posisinya terbalik. Agar lebih jelas, bisa kita lihat pada gambar berikut:

Dalam keadaan ini, kita bisa melakukan SELL di titik C. targetnya adalah titik D, sementara batasan resikonya di Fibonacci level 100%.
Berikut ini adalah contoh penerapannya pada grafik:
Meskipun demikian, tidak berarti kita hanya boleh melakukan sell atau buy di level 61.8% saja. Terkadang, di level 76.4% pun kita masih bisa melakukan buy atau sell.
Yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai level 76.4% tembus. Level ini sering disebut sebagai level “kritis”. Jika level ini tembus, maka kecenderungannya akan terjadi reversal (pembalikan arah), bukan lagi koreksi. Pada gambar di atas, meskipun upper shadow dari candlestick sudah menembus level 76.4%, namun ternyata harga penutupannya masih di bawah level 76.4%, sehingga level ini belum bisa dianggap tembus .

Read More......
 
 

MENTARI FOREX ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO